Seni Kompangan dan Tari Arakan Pengantin di Provinsi Jambi

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Itulah sepenggal pepatah jaman dulu yang eksis hngga kini. Disetiap daerah di Seluruh Indonesia memiliki ragam budaya, ada istiadat dan kebiasaan masing-masing. Hampir disetiap daerah mempunyai kesenian masing masing, dalam rangka untuk kegiatan tertentu, seperti di Provinsi Jambi, ada namanya kesenian Kompangan dan Tarian yang dilakukan oleh remaja laki laki.

Dikutip dari  http://repository.unp.ac.id/ kesenian Kompangan adalah kesenian musik tradisional bernuansa Islami yang tumbuh dan berkembang di kawasan Melayu yang berisi nasehat nasihat.

Kompangan termasuk bagian dari seni yang sering digunakan dalam berbagai acara adat dalam kehidupan masyarakat pendukungnya, salah satunya adalah acara pesta perkawinan masyarakat. Kompangan sendiri merupakan seni memukul rebana yang dilakukan oleh para pemuda.

Perlu diketahui, kesenian Kompangan digunakan dalam berbagai acara adat. Pertama kali digunakan dalam acara pesta perkawinan. Seiring dari berkembangnya zaman, Kesenian Kompangan juga digunakan dalam acara cukuran anak dan khitanan anak sebagai hiburan kepada para tamu yang datang. Kesenian musik kompangan sangat berperan penting bagi masyarakat, terutama dalam pesta perkawinan sebagai musik arak arakan pengantin laki-laki.

BACA JUGA …

Terkhusus Provinsi Jambi juga mempunya adat dan budaya arak arakan pengantin, yang telah hadir sejak jaman dulu. Arak arakan raja dan ratu sehari ini dikawal oleh peserta kompangan dan tari tradisional umumnya berasal dari pemuda pemuda dari tempat tinggalnya pengantin pria.

Setiap ingin mengantarkan pengantin pria ke rumah pengantin wanita, pengantin pria ini dikawal khusus oleh tim kompangan dan tari arak arakan pengantin D. Jumlahnya bervariasi mulai dari 10 orang hinggaa 20 orang.

Kompangan dan tari ini merupakan suatu bentuk kehormatan kepada pengantin pria yang sedang berbahagia sebagai raja dan ratu sehari, yang sengaja diantarkan ke rumah pengantin wanita.

Umumnya para pengantin hanya dikawal oleh kompangan, akan tetapi ada juga yang ingin ditambah dengan tari tradisonal sebagai bentuk penghormatan untuk raja dan ratu sehari dan juga ditambahkannya tari tradisional, akan menambah meriah.

Di kampung saya di salah satu Kelurahan di Kota Jambi S, hingga kini masih bertahan budaya arak arakan pengantin diselingi dengan tari yang dibawakan oleh anak-anak dan remaja.

Untuk kompangan dan tari tersebut diajarkan turun temurun oleh guru yang berasal dari salah satu desa di Kabupaten Muaro Jambi. Akulturasi budaya yang masuk ke kabupaten Muaro Jambi ini telah terjadi sejak berabad abad silam dan tetap lestari hingga kini yang identik dengan ciri khas melayu.

Setiap tarian saat arak arakan pengantin tersebut, ada yang mirip dengan gerakan pencak silat, dan berbagai macam gerakan teknik yang dipadukan dengan nyanyikan dan gerakan.

Dengan adanya seni kompangan dan tari tersebut, membuat pengantin pria menjadi bangga, sebab diperlakukan seperti raja. Semoga seni Kompangan dan Tari terus terjaga dan lestari, agar anak cucu kita tetap bisa menikmati warisan budaya leluhur. ***

  • 6 Tips Mengatur Keuangan Saat Mudik Lebaran ke Kampung

  • 4 Alasan Kenapa Dianjurkan Menutup Wadah Makanan dan Minuman

  • Ini Solusi Jika Terlanjur Pinjam Uang ke Rentenir

  • 6 Larangan Pengguna Kartu Kredit yang Patut Diketahui

You May Also Like

About the Author: admin